Selasa, 15 November 2011

Malam Malam Nina


Ini sudah hari ke empat Nina kelihatan murung. Kian hari wajahnya semakinmendung dengan mata nanar dan bisu. Kerjanya setiap hari bangun denganmasai lalu duduk termenung.Sebetulnya itu bukan urusanku. Karena Nina bukan siapa-siapaku. Ia hanyamenyewa sebuah kamar di rumahku. Ia tinggal bersamaku baru dua bulan ini.Tetapi entah kenapa aku langsung menyukainya.Rumahku tidak terlalu besar. Juga tidak terlalu bagus. Sederhana saja. Rumahkuberada di kampung yang dindingnya rapat dengan tembok rumah sebelah. Adatiga kamar kosong. Tetapi aku tinggal sendirian. Karenanya aku menyewakankamar-kamar kosong itu untuk menunjang hidupku di samping aku membukasebuah warung kelontongan kecil di depan rumah.Penghuni kamar pertama adalah Anita. Ia cantik dan selalu wangi karena ia
 
bekerja sebagai seorang beauty advisor kosmetik terkenal di counter kosmetik sebuah plaza megah. Anita supel, periang dan pandai berdandan.Kamar kedua dipakai oleh Tina. Ia juga cantik. Katanya ia bekerja di sebuahrestaurant. Tetapi yang mengantarnya pulang selalu bukan laki-laki yang sama.Kepulan rokok mild juga tidak pernah lepas dari bibirnya yang seksi.Tetapi aku bukan tipe pemilik kost yang rese’. Mereka kuberi kunci pintu supayabila pulang larut malam tidak perlu mengetuk-ngetuk pintu dan membuatkuterganggu. Aku tidak terlalu pusing dengan apa pun yang mereka kerjakan. Tohmereka selalu membayar uang kost tepat waktu. Bukan itu saja, menurutku,mereka cukup baik. Mereka hormat dan sopan kepadaku. Apa pun yang merekalakoni, tidak bisa membuatku memberikan stempel bahwa mereka bukanperempuan baik-baik.Nina datang dua bulan yang lalu dan menempati kamar ketiga. Kutaksir usianyabelum mencapai tiga puluh tahun. Paling-paling hanya terpaut dua tiga tahun dibawahku. Ia tidak secantik Anita dan Tina, tetapi ia manis dan menarik denganmatanya yang selalu beriak dan senyumnya yang tulus. Ia rapi. Bukan sajakamarnya yang selalu tertata, tetapi kata-katanya pun halus dan terjaga. Iamembuatku teringat kepada seorang perempuan yang nyaris sempurna.Perempuan di masa lampau yang…ah…aku luka bila mengingatnya.Oh ya, Nina juga tidak pernah keluar malam. Ia lebih banyak berada di rumah,bahkan ia tidak segan-segan membantuku menjaga warung. Kalaupun ia keluarrumah, ia akan keluar untuk tiga sampai empat hari setelah menerima telepondari seseorang laki-laki. Laki-laki yang sama.Bukan masalah kemurungannya saja yang aneh bagiku. Tetapi sudah dua mingguterakhir Nina tidak pernah keluar rumah. Bahkan tidak menerima ataumenelepon sama sekali. Yang tampak olehku hanyalah kegelisahan yangmenyobek pandangannya. Dan puncaknya adalah empat hari terakhir ini."Nina, ada apa? Beberapa hari ini kamu kelihatan murung…," aku tidak bisamengerem lidahku untuk bertanya, ketika kami hanya berdua saja di rumah.Warung sudah tutup pukul sepuluh malam. Anita dan Tina belum pulang. TetapiNina kulihat masih termangu dengan mata kosong.Ia menoleh dengan lesu setelah sepersekian menit diam seakan-akan tidak mendengarkan apa yang aku tanyakan. Kemurungan tampak menggunung di
 
matanya yang selalu beriak. Tetapi ia cuma menggeleng."Apa yang sekiranya bisa Mbak bantu?" aku tidak peduli andai ia menganggapkurese’.Lagi-lagi hanya gelengan. Ia masih duduk seperti arca membatu. Tapi mampukubaca pikirannya gentayangan. Rohnya tidak berada di tubuhnya. Entah kemana mengejewantah.Nina memang tidak pernah bercerita tentang dirinya, tentang orang tuanya,asalnya, sekolahnya, perasaannya, atau tentang laki-laki yang kerapmeneleponnya. Aku sendiri juga tidak pernah menanyakannya. Mungkin ada hal-hal yang tidak ingin dia bagi kepada orang lain. Maka biarlah ia menyimpannyasendiri. Bukankah aku juga seperti itu?Sepi terasa lindap, seakan menancapkan kuku-kukunya mengoyak angin yangterluka. Hening itu benar-benar ada di antara aku dan Nina. Aku merasatersayat. Karena sunyi seperti ini sudah kusimpan lima tahun lamanya. Kenapasekarang mendadak hadir kembali?Lalu aku bangkit dari dudukku, mengambil satu seri kartu sebesar kartu domino.Tetapi yang tergambar bukan bulatan-bulatan merah. Tetapi berbagai macambentuk berwarna hitam. Aku menyimpannya sudah lama. Sejak mataku selaluberembun, lalu embun itu menitik di ujung hati. Sejak sepi yang tanpa warnamulai mengakrabi aku. Sejak itulah aku mulai berbagi resah dengan kartu-kartuini. Mereka banyak memberiku tahu tentang apa saja yang aku ingin tahu.Anita dan Tina sering melihatku bermain dengan kartu-kartuku di tengah malamketika mereka pulang. Sejak melihatku bermain dengan kartu-kartu ini, merekajuga sering ikut bermain. Ada saja yang mereka ceritakan padaku melalui kartu-kartu ini. Jualan yang sepi, para langganan yang pelit memberikan tips sampaikepada pacar-pacar mereka yang datang dan pergi.Aku menyulut sebatang dupa India. Aromanya semerbak langsung memenuhiruangan. Aku suka. Setidaknya mengusir hampa yang sejak tadi mengambang diudara. Kukocok setumpuk kartu itu di tanganku. Kuletakkan di atas meja didepan Nina."Mari, temani Mbak bermain kartu. Ambillah satu…," ujarku.Mata Nina memandangku. Bibirnya tetap rapat. Tetapi matanya mulai
 
berembun. Dengan sebuah gerakan lamban tanpa semangat ia mengambilsebuah kartu. Lalu membukanya."Ah! Hatimu sedang kacau, sedih, kecewa, tidak menentu. Kau terluka,"gumamku ketika melihat kartu yang dibukanya.Seperti aku dulu…, aku melindas gelinjang rasa yang sudah lama kupendam.Aku mulai membuka kartu-kartu berikutnya. "Kau sedang memikirkanseseorang,…ah bukan…kau merindukannya…penantian… jalan panjang…menunggu…kau menunggu seorang laki-laki?""Ya," suaranya gamang terdengar seperti datang dari dunia lain.Kuteruskan membuka kartu-kartu itu. "Menunggu… halangan… perempuan…diaberistri?" kutanya ketika tampak olehku gambaran seorang perempuan di ataskartu itu."Ya," kali ini suaranya seperti cermin retak berderak. Ia luka sampai sepertisekarat.Kurasakan derak-derak itu sampai menembus batinku. Kenapa seperti yangpernah kurasakan lima tahun lalu?"Kamu mencintainya, Nina?""Amat sangat!" kali ini ia menjawab cepat.Kuhela napas panjang. Kubiarkan kartu-kartu berserakan di antara aku danNina. Kulihat jantungnya seperti bulan tertusuk ilalang."Tetapi ia mengecewakanku, Mbak. Ia mengkhianati aku." Ia tidak mampu lagimenyembunyikan suara gemeretak hatinya yang bagaikan bunyi tembikarterbakar."Ia mengkhianati kamu? Bukannya ia yang mengkhianati istrinya? Bukankah iasudah beristri?" aku bertanya, berpura-pura bodoh karena berusahamenyingkirkan masa lalu yang mulai menggigiti sanubariku. Perih itu masihterasa."Ya. Dia beristri. Tapi istrinya jahat sekali. Ia ingin meninggalkannya. Iamencintaiku. Kami punya rencana masa depan," jawabnya naïf dan lugu.Astaga! Seperti itukah diriku lima tahun silam? Aku benar-benar seperti melihatcermin diriku.